Jakarta — Pemerintah memastikan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 masih berada dalam jalur yang sesuai target atau on track. Kondisi tersebut tercermin dari defisit anggaran yang tetap terkendali meski perekonomian global menghadapi tekanan akibat kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kinerja APBN tetap kuat dengan kondisi keseimbangan primer yang positif. Hingga akhir Agustus, pendapatan negara tercatat Rp2.055,6 triliun atau sekitar 65 persen dari target. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.295 triliun sehingga menghasilkan defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Hingga akhir Agustus kinerja APBN itu tetap kuat dengan keseimbangan primer yang positif. Defisit tetap dalam batasan yang terkendali, dan ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track,” kata Suahasil.
Menurut Suahasil, pemerintah terus mencermati perkembangan ekonomi global sebagai dasar untuk menyiapkan langkah antisipasi melalui kebijakan fiskal. Kenaikan suku bunga The Fed hingga 5 persen dan ekspektasi suku bunga bertahan tinggi dalam jangka panjang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
“Memperhatikan apa yang terjadi di global itu menjadi penting untuk kita menyiapkan antisipasi perekonomian Indonesia, dan salah satu antisipasinya adalah antisipasi yang harus dilakukan oleh APBN,” ujar Suahasil.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 tercatat 5,45 persen, sementara inflasi berada pada level 3,19 persen.
“Kalau kita sudah lihat Indonesia semester I 5,45 persen, lalu kemudian kita dapat angka kemarin inflasi 3,19 persen. Itu adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient,” tutur Suahasil.
Ia menambahkan, ketahanan ekonomi nasional juga ditopang aktivitas konsumsi masyarakat, transaksi ekonomi, dan investasi yang tetap bergerak positif. Pemerintah akan terus menggunakan APBN sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas sekaligus merespons dinamika ekonomi global.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menegaskan disiplin fiskal tetap dijaga agar belanja negara efektif, produktif, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif. (*)












