Mengapresiasi Pemerintah Perkuat Kedaulatan Energi Lewat Penghentian Impor BBM

oleh -1 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Gavin Asadit )*

Indonesia memasuki babak baru dalam perjalanan panjang menuju swasembada energi nasional. Memasuki awal 2026, optimisme pemerintah semakin menguat seiring dengan berbagai kebijakan strategis yang mulai menunjukkan hasil nyata. Salah satu langkah paling signifikan adalah persiapan penghentian impor solar dan avtur secara bertahap, yang menandai perubahan fundamental dalam tata kelola energi nasional. Transisi ini tidak hanya dipandang sebagai upaya penghematan devisa, tetapi juga sebagai simbol kedaulatan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi global.

banner 336x280

Keberanian pemerintah untuk menghentikan impor solar pada 2026 dilandasi oleh peningkatan kapasitas kilang dalam negeri, terutama setelah beroperasinya secara penuh proyek pengembangan kilang Balikpapan melalui program Refinery Development Master Plan. Kilang ini kini mampu mengolah minyak mentah dengan kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya, sehingga pasokan solar untuk kebutuhan nasional dapat dipenuhi dari produksi domestik. Dengan kondisi tersebut, ketergantungan terhadap solar impor yang selama bertahun-tahun membebani neraca perdagangan negara secara perlahan dapat diakhiri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia dalam pernyataannya menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi menerbitkan izin impor solar baru, baik untuk badan usaha milik negara maupun swasta. Menurut Bahlil, kebijakan ini merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan ketahanan energi nasional dibangun dari kekuatan produksi dalam negeri. Ia menekankan bahwa stok impor solar yang masih masuk di awal tahun merupakan sisa kontrak lama dan bukan refleksi dari kebutuhan baru. Pemerintah, kata Bahlil, ingin memastikan bahwa mulai 2026 Indonesia berdiri di atas kaki sendiri untuk pemenuhan solar nasional.

Keberhasilan menuju swasembada solar juga memberikan kepercayaan diri bagi pemerintah untuk melangkah lebih jauh dengan menyiapkan penghentian impor avtur. Avtur selama ini menjadi salah satu komponen impor BBM yang cukup besar, seiring dengan pertumbuhan sektor penerbangan nasional. Pemerintah menargetkan bahwa pada 2027 impor avtur dapat dihentikan sepenuhnya, setelah kilang-kilang dalam negeri mampu memproduksi avtur dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan standar internasional penerbangan. Langkah ini diyakini akan memberikan dampak besar terhadap efisiensi biaya industri penerbangan nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi strategis Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada energi adalah fondasi utama bagi kemandirian bangsa. Ia menyampaikan bahwa Indonesia tidak boleh selamanya bergantung pada pasokan energi dari luar negeri, karena ketergantungan tersebut membuat ekonomi nasional rentan terhadap tekanan global. Presiden menilai bahwa dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia seharusnya mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Ia juga menekankan bahwa swasembada energi bukan hanya soal minyak dan gas, tetapi bagian dari visi besar membangun ekonomi nasional yang berdaulat dan berkelanjutan.

Peningkatan kapasitas kilang Balikpapan menjadi bukti konkret keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi energi nasional. Proyek yang menelan investasi miliaran dolar tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah, tetapi juga memperbaiki kualitas produk BBM yang dihasilkan agar memenuhi standar lingkungan yang lebih tinggi. Selain solar dan avtur, kilang ini juga mampu memproduksi berbagai produk turunan lain yang sebelumnya masih banyak diimpor. Dengan demikian, nilai tambah industri energi dapat dinikmati di dalam negeri, bukan justru mengalir ke luar negeri.

Optimisme menuju swasembada energi juga diperkuat oleh kebijakan hilirisasi yang konsisten dijalankan pemerintah. Hilirisasi tidak hanya diterapkan pada sektor mineral, tetapi juga pada sektor energi. Pemerintah mendorong pemanfaatan minyak mentah dalam negeri untuk diolah secara maksimal di kilang nasional, sehingga ketergantungan terhadap produk jadi impor dapat ditekan. Di sisi lain, penggunaan bahan bakar nabati seperti biodiesel juga terus diperluas sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi dan pengurangan ketergantungan pada BBM fosil murni.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai bahwa penghentian impor solar dan avtur akan memberikan dampak positif yang luas bagi perekonomian nasional. Menurutnya, penghematan devisa yang dihasilkan dapat dialihkan untuk pembiayaan pembangunan sektor produktif lainnya. Selain itu, ketahanan energi yang lebih kuat akan meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat stabilitas ekonomi nasional. Airlangga menegaskan bahwa transisi ini bukan kebijakan jangka pendek, melainkan bagian dari peta jalan besar pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.

Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa tantangan tetap ada. Fluktuasi harga minyak dunia, kesiapan infrastruktur distribusi, serta konsistensi pasokan minyak mentah menjadi faktor yang harus terus dikelola dengan cermat. Oleh karena itu, kebijakan penghentian impor dilakukan secara bertahap dan terukur agar tidak mengganggu stabilitas pasokan energi nasional. Pemerintah juga terus membuka ruang dialog dengan pelaku industri untuk memastikan transisi berjalan lancar tanpa menimbulkan gejolak di pasar.

Ke depan, swasembada energi tidak hanya diukur dari berhentinya impor solar dan avtur, tetapi juga dari kemampuan Indonesia mengembangkan energi terbarukan sebagai penopang utama kebutuhan energi nasional. Presiden Prabowo menekankan pentingnya energi surya, bioenergi, dan sumber energi bersih lainnya untuk melengkapi produksi energi fosil dalam negeri. Dengan kombinasi antara penguatan kilang, hilirisasi, dan pengembangan energi terbarukan, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem energi yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.

Optimisme mewujudkan swasembada energi pada awal 2026 bukan sekadar retorika politik, melainkan refleksi dari perubahan nyata yang sedang berlangsung. Penghentian impor solar dan persiapan stop impor avtur menjadi simbol transisi besar menuju kedaulatan energi nasional. Jika konsistensi kebijakan dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dapat terus dijaga, maka swasembada energi bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *